Jumat, 25 September 2015

kenangan Tugas Tafsir 2

MISI UTAMA PARA NABI

Para nabi merupakan rahmat bagi semesta alam, ia berdakwah untuk mengesakan Allah SWT, mengajarkan ketauhidan dan memberantas kemusyrikan di tengah masyarakat yang masih dalam kegelapan. Untuk mewujudkan hal tersebut, mulailah dibangun misi-misi para nabi. Didalam misi tersebut, terdapat misi-misi yang utama. Misi yang utama para nabi terdapat 5 hal yang pokok. Yang pertama tidak ada tuhan selain Allah. Sebagai umat islam kita harus mempercayai terlebih dahulu adanya Allah SWT sebagai satu-satunya tuhan umat islam, tiada tuhan selain Allah (laa illa ha illalah).  kedua tidak ada ibadah kecuali kepada Allah. Setelah mempercayai adanya Allah, segala ibadah seperti sholat, zakat, berpuasa dan lainnya semua ditujukan kepada Allah, tidak kepada manusia, jin ataupun yang lainnya. Ketiga, tidak ada tindakan manusia mempertuhankan manusia, hewan, benda, bahkan jin dan setan. Mempertuhankan dimaksudkan seperti menyembah, memohon pertolongan seharusnya hanyalah kepada Allah, karena Ia lah yang maha mengatur, menolong, apa saja hal yang terjadi di dunia ini bahkan di akhirat nantinya. Keempat, tidak ada manusia yang berhak menindas sesama manusia. Dalam agama islam, manusia dengan manusia lainnya adalah layaknya saudara. Maka, penindasan sangatlah tidak pantas dan Allah akan sangat murka kepada manusia yang melakukan penindasan terhadap sesama. Kelima, meyakini kehidupan setelah kematian. Kehidupan di dunia hanyalah sementara, kita di dunia hanyalah sebagai perlombaan untuk mengumpulkan amal baik sebanyak-banyaknya. Kehidupan setelah di dunia akan ada, dan kita harus percaya. Segala amal perbuatan, tindakan akan dipertanggungjawabkan di akhirat nanti, setelah kematian. Maka, di dalam misi kelima ini dibagi menjadi tiga bagian penjelasan. Bagian pertama, ada pertanggungjawaban dihadapan Allah. Amal kita akan dihitung dan hukuman apa yang akan kita dapatkan atas apa yang telah kita lakukan selama di dunia nanti akan terlihat di akhirat. Kedua, yang bisa mempertanggungjawabkan mendapat ridha Allah, dan sebaliknya manusia yang tidak bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya mendapat murka Allah. Orang-orang yang selama di dunia berbuat baik, dan beramal shaleh akan mendapatkan ridha Allah atau surgaNya Allah. Sedangkan orang-orang yang berlaku sebaliknya akan mendapat siksaan Allah, sesuai apa yang telah ditentukan dalam Al-quran. Ketiga, mengenai hal apa yang  ditanggungjawabkan itu, pembicaraan tersebut akan menemukan titik balik jawaban apabila melihat kembali ke misi pertama para nabi yaitu apakah seseorang tersebut telah mengakui dan percaya bahwa tidak ada tuhan selain Allah, apakah ia melakukan ibadah hanya kepada Allah dan seterusnya sampai pada titik kelima. Namun, hal yang paling utama dipertanggungjawabkan adalah mengesakan Allah atau dengan berbuat tauhid kepada Allah. Seperti itulah misi utama para nabi, sangat mulia dan semua bertujuan agar kita mengetahui bahwa semua hal yang dilakukan, apapun, dan kapanpun, hanyalah kepada Allah SWT.


Kenangan Tugas Tafsir - Dibuang Sayang

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ
أَعْجَبَتْكُمْ ۗ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا ۚ وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِن
مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ ۗ أُولَٰئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ ۖ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّة
وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ ۖ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُون

(Surah Al-Baqarah ayat 221)
Artinya :
Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya(perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.
KOSAKATA


Dan Jangan : وَلَا
Kalian nikahi : تَنْكِحُوا
Wanita-wanita musyrik : الْمُشْرِكَاتِ
Sehingga : حَتَّىٰ
Mereka beriman : يُؤْمِنَّ
Dan sungguh budak wanita : وَلَأَمَةٌ
Beriman : مُؤْمِنَةٌ
Lebih baik : خَيْرٌ
Daripada : مِنْ
Wanita musyrik : مُشْرِكَةٍ
Dan jangan : وَلَوْ
Ia menarik kalian : أَعْجَبَتْكُمْ
Dan jangan : وَلَا
Kalian menikahkan : تُنْكِحُوا
Orang-orang musyrik : الْمُشْرِكِينَ
Sehingga : حَتَّىٰ
Mereka beriman: يُؤْمِنُوا
Dan sungguh budak : وَلَعَبْدٌ
Beriman: مُؤْمِنٌ
Lebih baik : خَيْرٌ
Dari pada : مِن
Orang musyrik : مُشْرِكٍ
Walau : وَلَوْ
Dia menarik hati kalian : أَعْجَبَكُمْ
Mereka itu : أُولَٰئِكَ
Mereka mengajak : يَدْعُونَ
Ke : إِلَى
Neraka : النَّارِ
Dan Allah : وَاللَّهُ
Dia mengajak : يَدْعُو
Ke : إِلَى
Surga : الْجَنَّة
Dan ampunan: وَالْمَغْفِرَةِ
Dengan izin-Nya : بِإِذْنِهِ
Dan Dia menerangkan : وَيُبَيِّنُ
Ayat-ayat-Nya : آيَاتِهِ
Kepada manusia : لِلنَّاسِ
Supaya mereka : لَعَلَّهُمْ
Mereka ingat/mengambil pelajaran : يَتَذَكَّرُون


Tafsir :
Ayat ini menerangkan tentang larangan laki-laki muslim menikahi perempuan musyrik hingga perempuan itu beriman kepada Allah. Lalu Islam lebih memilih perempuan yang status sosialnya rendah disbanding dengan perempuan yang musyrik atau diluar islam yang memiliki segalanya, maka dari itu pilihlah wanita yang beragama Islam. Dengan demikian, disini memberi pengertian bahwa Iman nilainya 1, sedangkan yang lain 0. Dan didalam ayat ini juga dijelaskan bahwa wali dalam pernikahan (seperti bapak kandung, paman, dan lainnya) untuk tidak menikahkan anak perempuannya dengan laki-laki musyrik. Anak laki-laki adalah kepala rumah tangga nantinya, yang akan menjadi panutan. Maka dari itu, perempuan tidak boleh menikah dengan laki-laki yang non-islam. Seorang perempuan harus memiliki sebuah prinsip agar ia tidak terbawa kepada neraka.
ARTIKEL (KARYA TULIS SEBUAH URAIAN TAFSIR AL-BAQARAH AYAT 221)
PERNIKAHAN BEDA AGAMA DALAM ISLAM
Pernikahan beda Agama merupakan permasalahan yang banyak terjadi di antara manusia seluruh penjuru dunia ini. Mereka umumnya memilki hubungan namun saling tidak membicarakan tentang agama tetapi pada akhirnya menjadikan hubungan itu ke jenjang yang lebih serius, yaitu pernikahan. Lalu bagaimana jika hal itu terjadi? Bagaimana pernikahan beda agama di mata Allah? Di mata Islam?
Pernikahan bukanlah sekedar pergaulan dua orang manusia dalam suatu rumah tangga atau sebatas perbuatan yang hanya didasari semata-mata suka sama suka atau sudah saling menyayangi. Akan tetapi Islam memandang bahwa pernikahan adalah sebuah ibadah kepada Allah swt. Perkawinan sangat berhubungan dengan agama, erat hubungannya dengan keturunan, martabat, harta, kehidupan kedepannya dan lain-lain. Kedua insan dalam ikatan pernikahan dalam Islam, haruslah Islam kedua-duanya. Jika salah satu mempelai orang musyrik, Islam sangat melarang hal tersebut, karena orang musyrik bukan menyembah Allah. Perkawinan dengan orang musyrik akan seperti ada tembok besar yang kuat dan kokoh yang akan memisahkan keduanya.
Sudah sangat jelas dalam Al-Qur’an, surah Al-Baqarah ayat 221 menerangkan tentang larangan laki-laki muslim menikahi perempuan musyrik hingga perempuan itu beriman kepada Allah. Bahkan Islam lebih memilih perempuan yang status sosialnya rendah dibanding dengan perempuan yang musyrik atau diluar islam yang memiliki segalanya, maka dari itu pilihlah wanita yang beragama Islam. Dengan demikian, disini memberi pengertian bahwa Iman nilainya 1, sedangkan yang lain 0. Dan didalam ayat ini juga dijelaskan bahwa wali dalam pernikahan (seperti bapak kandung, paman, dan lainnya) untuk tidak menikahkan anak perempuannya dengan laki-laki musyrik. Anak laki-laki adalah kepala rumah tangga nantinya, yang akan menjadi panutan. Maka dari itu, perempuan tidak boleh menikah dengan laki-laki yang non-islam. Seorang perempuan harus memiliki sebuah prinsip agar ia tidak terbawa kepada neraka. Agar mencegah adanya celah yang sangat vital didalam suatu rumah tangga islam yaitu kepemimpinan non muslim yang bisa berakibat pada pewarnaan yang terjadi didalamnya akan didominasi oleh warna-warna yang tidak bersumber dari akidah atau kepercayaan islam.

Dalam penjelasan ayat diatas, sudah sangat jelas Allah melarang pernikahan beda agama. Ayat ini menekankan manusia supaya mereka selalu ingat tentang apa yang telah ditetapkan Allah, agar tidak keluar dari jalur Islam. Carilah laki-laki atau perempuan Islam, maka pernikahan akan diridhoi dan di nilai sebagai Ibadah di hadapan Allah.

Kenangan Tugas - Dibuang Sayang

BAB I
PENDAHULUAN
Latar belakang
Manusia melakukan perjalanan hidup, mereka menentukan arah hidupnya masing-masing dengan akal dan fikiran mereka. Namun agar manusia selamat dunia dan akhirat, harus didasarkan dengan Akhlak Tasawuf. Tidak heran dengan akhlak tasawuf dapat ikatakan selamat, karena misi utama kerasulan Muhammad saw pun untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, dan sejarah mencatat bahwa faktor pendukung keberhasilan dakwah beliau itu antara lain karena dukungan akhlaknya yang prima. Dan tidak hanya itu, penelitian para ulama islam terhadap Al-Quran dan Al-Hadits menunjukkan bahwa hakikat agama islam adalah akhlak. Melihat betapa pentingnya akhlak tasawuf tentu menjadi alasan mengapa penulis diberikan tugas lalu memilih membuat laporan buku akhlak tasawuf ini. Dan juga menjadi alasan mata kuliah akhlak tasawuf ini wajib diikuti, sebagai upaya untuk menanggulangi kemerosotan moral yang tengah dialami generasi bangsa.

Tujuan penulisan
Laporan hasil bacaan dari buku Drs. H. A. Mustofa “Akhlak Tasawuf” ini mempunyai tujuan sebagai berikut :
1.      Memenuhi nilai Ujian Tengah Semester Mata kuliah Akhlak Tasawuf.
2.      Mengerti akan pentingnya akhlak itu sendiri dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dalam setiap perbuatan, perkataan apapun kita lebih bijaksana.
3.      Dan dengan mempelajari ilmu tasawuf kita dapat lebih paham ilmu tasawuf seperti apa, sehingga tidak salah persepsi mengenai tasawuf.
4.      Melatih daya kritis mahasiswa dalam menanggapi suatu bacaan.








BAB II
POKOK-POKOK ISI BUKU

BAGIAN I : AKHLAK

BAB I – PENGERTIAN AKHLAK
1.            DEFINISI
Kata “Akhlak” berasal dari bahasa Arab, jamak dari khuluqun yang menurut bahasa berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Pengertian akhlak timbul sebagai media yang memungkinkan adanya hubungan baik antara khaliq dengan makhluk. Prof.Dr.Ahmad Amin memberikan definisi, bahwa yang disebut akhlak “Adatul-Iradah atau kehendak yang dibiasakan”. Kehendak yaitu ketentuan dari beberapa keinginan manusia setelah bimbang, sedang kebiasaan ialah perbuatan yang diulang sehingga mudah melakukannya.
Istilah lain yang lazim di pergunakan disamping Akhlak ialah apa yang disebut Etika. Berasal dari bahasa Yunani “Ethos” yang berarti adat kebiasaan.Dalam pelajaran filsafat, etika adalah bagian daripadanya yang memberikan redaksi berbeda-beda, salah satunya etika ialah ilmu tentang tingkah laku manusia prinsip-prinsip yang disistimatisir tentang tindakan moral yang betul (Webster’s Sirct).
Pendapat menyatakan etika sama dengan akhlak. Persamaan memang ada, karena keduanya membahas masalah baik dan buruknya tingkah laku manusia. Dari beberapa pengertian, bahwa akhlak adalah tabiat seseorang, yakni keadaan jiwa yang terlatih, sehingga dalam jiwa tersebut benar-benar telah melekat sifat-sifat yang melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah dan spontan tanpa dipikirkan dan diangan-angan lagi.
2.      POKOK PERSOALAN AKHLAK
Imam Al-Ghazali membagi tingkatan keburukan akhlak menjadi empat:
1.      Keburukan akhlak yang timbul karena ketidaksanggupan seseorang mengendalikan nafsunya.
2.      Perbuatan yang diketahui keburukannya, tetapi tidak bisa meninggalkannya karena nafsu sudah menguasai.
3.      Keburukan akhlak yang dilakukan seseorang, karena pengertian baik baginya sudah kabur, sehingga perbuatan buruklah yang dianggap baik.
4.      Perbuatan buruk yang sangat berbahaya terhadap masyarakat pada umumnya, sedangkan tidak mendapat tanda-tanda kesadaran bagi pelakunya, kecuali hanya kekhawatiran akan menimbulkan pengorbanan yang lebih hebat lagi.
Kehancuran manusia yang dihadapi islam sejak lahirnya sama keadaannya dengan kehancuran akhlak bangsa Romawi, Persia, yang terkenal dengan ketinggian kebudayaan tidak member jaminan untuk melakukan perbuatan manusiawi, kecuali kalau manusia melakukan petunjuk agama. Pendidikan akhlak sudah ada dalam al-Quran dan hadist, tinggal merumuskan secara operasional. Menghadapi keburukan akhlak yang menggunakan sarana modern, harus juga memakai alat dan cara modern untuk mengatasinya.
3.      HUBUNGAN AKHLAK DENGAN ILMU-ILMU LAIN
a)      Hubungan Akhlak dengan Psikologi
Objek persoalan yang jelas bahwa ilmu jiwa menguraikan tentang jiwa seseorang, masyarakat dan lainnya tetapi akhlak akan mempersoalkan apakah jiwa mereka tersebut termasuk jiwa yang baik dan buruk.
b)      Hubungan Akhlak dengan Sosiologi
Ilmu Akhlak mempelajari dan mengupas masalah perilaku, perbuatan manusia yang timbul dari kehendak. Ilmu sosiologi mempersoalkan kehidupan masyarakat.
c)      Hubungan Akhlak dengan Ilmu Hukum
Pokok pembicaraan ilmu akhlak dan ilmu hukum adalah perbuatan manusia. Akhlak memerintahkan berbuat apa yang berguna dan melarang berbuat segala apa yang mudarat. Sedang ilmu hukum tidak, karena banyak perbuatan yang baik dan berguna tidak diperintahkan oleh ilmu hukum.
d)     Hubungan Akhlak dengan Iman
Akhlak yang baik adalah mata rantai daripada keimanan. Kalau iman melahirkan amal shaleh maka dapat dikatakan iman itu telah sempurna. Sedangkan akhlak yang buruk adalah akhlak yang menyalahi prinsip keimanan.
4.      MANFAAT MEMPELAJARI ILMU AKHLAK
Akhlak dapat menghasilkan kebahagiaan bagi orang yang berakhlak kepada Tuhan yaitu mendapat tempat baik di masyarakat, akan disenangi orang dalam pergaulan, akan dapat dipelihara dari hukuman yang sifatnya manusia. Orang yang berakhlak juga akan memperoleh irsyad, taufik dan hidayah. Menurut Dr.Hamzah Ya’cub menyatakan hasil atau hikmah dan faedah dari akhlak sebagai berikut:
a.       Meningkatkan derajat manusia
Orang yang mempunyai pengetahuan dari ilmu akhlak lebih utama, dapat mengantarkan pada kemuliaan, kebahagiaan dan dapat memelihara diri supaya senantiasa berada pada garis akhlak yang mulia.
b.      Menuntun pada kebaikan
Pengetahuan akhlak adalah ilmu yang mengundang kepada kebaikan, serta member tuntunan kepadanya.
c.       Manifestasi kesempurnaan iman
Iman yang sempurna akan melahirkan kesempurnaan akhlak. Untuk menyempurnakan iman, haruslah menyempurnakan akhlak dengan mempelajari suluhnya.
d.      Keutamaan di hari kiamat
Orang-orang yang berakhlak luhur akan menempati kedudukan yang terhormat di hari kiamat.
e.       Kebutuhan pokok dalam keluarga.
Akan merana ruumah tangga yang tiada dihiasi dengan akhlakul karimah dan bahagialah rumahtangga yang dihiasi keindahan akhlak.
f.       Membina kerukunan antar tetangga
Islam mengajarkan agar antara tetangga dibangun jembatan emas berupa silahturahmi, mahabbah dan mawaddah.
g.      Untuk mensukseskan pembangunan bangsa dan Negara
Suatu bangsa atau Negara akan jaya, apabila warga negaranya berakhlak mulia.
h.      Dunia betul-betul membutuhkan akhlakul karimah

BAB II – GARIS BESAR PERKEMBANGAN KEPEMIKIRAN AKHLAK
AKHLAK PERIODE YUNANI
Penyelidikan ahli-ahli filsafat Yunani Kuno tidak banyak memperhatikan pada akhlak, kebanyakan mengenai alam. Pandangan dalam kewajiban pun menimbulakn pandangan mengenai pokok-pokok akhlak, an diikuti kecaman sebagian adat-adat lama dan pelajran yang dilakukan orang dahulu. Membangkitkan kemarahan “conservative” kaum kolot. Tokoh Socrates sebgai pembangun ilmu akhlak. Golongan yang lahir sesudah itu “Cynics”. Dan plato berpendapat pokok-pokok keutamaan ada empat yaitu hikmah kebijaksanaan, keberanian, keperwiraan, keadilan. Lalu disusul Aristoteles (394-322 SM) membangun paham yang pengikutnya dinamai “Peripatetis”. Pada akhir abad ketiga Masehi, tersiar agama Nasrani di Eropa. Agama itu merubah pokok-pokok akhlak yang tersebut dalam Taurat. Menurut agana Nasrani bahwa pendorong dalam melakukan perbuatan baik itu ialah cinta kepada Tuhan Allah dan iman kepda-Nya.
AKHLAK PERIODE ABAD PERTENGAHAN
Gereja menerangi filsafat yunani dan Romawi dan menentang penyiaran ilmu dan kebudayaan kuno. Ahli filsafat akhlak yang lahir pada masa ini filsafatnya berupa paduan dari ajaranYunani dan ajaran Nasrani.
AKHLAK PERIODE BANGSA ARAB
Zaman Jahiliyah, bangsa Arab tidak mempunyai ahli filsafat yang mengajak kepada aliran paham tentang sebagaimana Bangsa Yunani. Setelah datang agama Islam, ada ajakan agar orang-orang percaya bahwa Allah, sumber segala sesuatu diseluruh alam. Allah menjadikan manusia dalam bentuk susunan yang baik dan mengadakan jalan yang harus ditempuh. Dan ada suatu batasan yang Allah firmankan diatas kehidupan manusia.
Penyelidikan akhlak berasar ilmu pengetahuan masih sedikit. Dasar penyelidikannya Abu Nasr Al-Farabi. Tetapi tidak semua mengikuti jejaknya.
AKHLAK PERIODE ABAD MODERN
Abad pertengahan ke 15 mulai ahli pengetahuan menghidupsuburkan filsafat Yunani Kuno. Mereka suka menyelidiki akhlak menurut kenyataan dan tidak mengikuti gambar khayal, dan hendak melahirkan kekuatan yang ada pada manusia, dihubungkan dengan praktek hidup di dunia.

BAB III-BAIK DAN BURUK
PENGERTIAN
Pengertian “baik” menurut Ethik adalah sesuatu yang berharga untuk sesuatu tujuan. Sebaliknya sesuatu yang tidak berharga, tidak berguna untuk tujuan, apabila yang merugikan adalah “buruk”. Menurut akhlak islam, perbuatan disamping baik juga harus benar, yang benar juga harus baik.
UKURAN BAIK DAN BURUK
Seseorang melihat baik dan buruk ukuran dan karakternya dinamis, sulit dipecahkan. Namun dapat diukur dengan fitrah manusia.
-          Pengaruh adat kebiasaan
Terpengaruh adatmya karena ia hidup di dalam lingkungan dengan melihat dan mengetahui. Mereka melakukan perbuatan dan menjauhi perbuatan lainnya. Berpegang pada adat istiadat itu, meskipun tidak benar ada juga faedahnya.
BERBAGAI ALIRAN TENTANG BAIK DAN BURUK
-          Aliran Hedonisme
Bahwa norma baik dan buruk adalah kebahagiaan karena suatu perbuatan apabila mendatangkan kebahagiaan maka perbuatan itu baik, dan sebaliknya perbuatan itu buruk apabila mendatangkan penderitaan. Maksud paham ini bahwa manusia hendak mencari kelezatan yang sebesar-besarnya bagi dirinya.
-          Aliran utilitarianisme
Agar manusia dapat mencari sebagian sebesar-besarnya untuk sesama manusia atau semua makhluk yang memilki perasaan. Kelezatan paham ini sebagi ukuran mengandung kelezatan lahir dan batin, tubuh dan akal.
-          Aliran Intuitionisme
Bahwa setiap manusia mempunyai kekuatan naluri batiniah yang dapat membedakan sesuatu itu baik dan buruk hanya selintas pandang.
-          Aliran Evolutionisme
Segala perbuatan akhlak itu tumbuh dengan sederhana, dan mulai naik dan meningkat sedikit demi sedikit, lalu berjalan menuju kepada cita-cita.
-          Aliran Idealisme
pelopori oleh Immanuel Kant. “kemauan” adalah faktor terpenting dari wujudnya tindakan-tindakan yang nyata. Oleh karena itu “kemauan yang baik” adalah menjadi pokok dalam etika Idealisme.
-          Aliran Tradisionalisme
Berpendapat bahwa yang menjadi norma baik dan buruk ialah tradisi atau adat kebiasaan. Artinya sesuatu itu baik kalau sesuai adat kebiasaan, dan sebaliknya.
-          Aliran Naturalisme
Yang menjadi ukuran ialah perbuatan sesuai dengan fitrah/naluri manusia itu sendiri, baik mengenai fitrah lahir maupun fitrah batin.

BAB IV-ASPEK-ASPEK YANG MEMPENGARUHI PEMBENTUKAN AKHLAK
1)      INSTING
Suatu alat yang dapat menimbulkan perbuatan yang menyampaikan pada tujuan dengan berpikir lebih dahulu ke arah tujuan itu dan tiada dengan didahului latihan perbuatan itu.Insting berbeda-beda bagi manusia, kadang manusia diberi kekuatan dengan instingnya, kadang diberi kelemahan. Macam-macam insting: Insting menjaga diri sendiri, Insting menjaga lawan jenis, dan Insting merasa takut.
2)      POLA DASAR BAWAAN (TURUNAN)
Turunan sifat-sifat manusia. Ddimana sifat anak mewarisi sifat-sifat orang tua mereka, tetapi ia menjaga kepribadiannya dengan sifat-sifat tertentu. Insting mewarisi dalam bentuk persediaan demikian pula diwarisi juga urat sarap dan cirri-cirinya. Namun keturunan buka satu-satunya sebab pembentukan manusia, karena disampingnya ada yang bernama lingkungan.
3)      LINGKUNGAN
Sesuatu yang melingkupi tubuh yang hidup. Lingkungan ada dua macam yaitu lingkungan alam dan lingkungan pergaulan. Lingkungan keduanya mempunyai pengaruh yang berlawanan, terkadang menguatkan hidup manusia dan meninggikannya, terkadang melemahkan atau mematikan.
4)      KEBIASAAN
Perbuatan yang dilakukan berulang-ulang terus sehingga mudah dikerjakan bagi seseorang. Konsep kebiasaan dalam ilmu jiwa, berhubungan dengan urat syaraf, terutama pada otak. Dengan perannya, susunan dan bentuk sifat-sifat sehingga apabila hubungan perbuatan dengan urat saraf dapat diketahui, maka dapat dimengerti sebagaimana bentuk kebiasaan.
5)      KEHENDAK
Suatu perbuatan yang berdasar atas kehendak dan bukan hasil kehendak. Perbuatan hasil kehendak mengandung, perasaan, keinginan, pertimbangan dan azam yang disebut ekhendak.
6)      PENDIDIKAN
Pendidikan ddijadikan pusat perubahan perilaku yang kurang baik untuk diarahkan menuju perilaku yang baik. Dibutuhkan beberapa unsure dalam pendidikan, perlu tenaga pendidik memiliki kemampuan profesionalitas dlam bidangnya dan materi pengajaran. Karena, lingkungan pendidikan sangat mempengaruhi jiwa anak didik.

BAB V – KEBEBASAN, TANGGUNG JAWAB DAN HATI NURANI
KEBEBASAN
Kebebasan tidak lepas dari persoalan kesusilaan. Unsur kebebasan untuk memilih berbagai alternatif. Manusia dikatakan bebas, apabila ia dalam arti yang lebih tinggi terikat, yaitu terikat pada norma-norma. Apabila ia tidak mengakui hal itu, maka ia tetap tidak bebas, karena secara demikian ia dikuasai kecenderungan ini senantiasa tetap kuat pengaruhnya sehingga manusia tidak sepenuhnya bebas.
TANGGUNG JAWAB
Dalam surah Al-Qiyammah ayat 36, menghimbau hati nurani manusia untuk bertanggung jawab terhadap perbuatan, tindakan, sikap hidup. Tangung jawab ditegaskan adalah untuk mempertahankan keadilan, keamanan dan kemakmuran.
HATI NURANI
Di dalam jiwa manusia ada sesuatu kekuatan yang berfungsi untuk memperingatkan, mencegah dari perbuatan yang buruk. Hati nurani timbul sebagai perintah supaya melakukan kewajiban dan memperingatkan agar jangan sampai menyalahinya. Manusia mau memnunaikan kewajiban dengan dorongan hati nurani yang tertanam dalam watak dan jiwanya.

BAB VI – HAK, KEWAJIBAN, DAN KEUTAMAAN
PERSOALAN HAK
Antara hak dan kewajiban tidak dapat dipisahkan. Hakekat dari hak yang dimiliki seseorang semata-mata pemberian masyarakat, karena kewajibannya telah dilaksanakan. Ada beberapa hak bagi manusia antara lain:
ü  Hak Hidup
ü  Hak kemerdekaan
ü  Hak memiliki
ü  Hak mendidik
ü  Hak wanita
KEWAJIBAN
Di dalam ajaran Islam menekankan atas kewajiban sebagai seorang muslim dengan sesama muslim harus dijalankan. Prinsip dasar “beribadah” inilah menjadi kewajiban bagi manusia sebagai makhluk Tuhan. Kewajiban dapat dibagi tiga macam :
ü  Kewajiban individu
Contohnya manusia sebagai individu membutuhkan kesehatan, untuk itu perlu berkewajiban menjaga kesehatannya, bahkan jika sakit berkewajiban menyehatkan tubuh kembali.
ü  Kewajiban sosial
Contohnya kewajiban tolong menolong dengan sesame manusia.
ü  Kewajiban makhluk kepada Tuhan
Individu yang ibadah. Arti sempitnya adalah orang Islam harus kewajiban sholat. Dalam arti luasnya, apabila semua aktivitas dijalani dengan niat ikhlas, baik dan benar dan semata-mata mencari ridho Allah.
KEUTAMAAN
Keutamaan adalah akhlak baik. Pengertian keutamaan berbeda sebab-sebabnya satu sama lain. Pokok-pokok keutamaan itu ada empat yaitu kebijaksanaan, keberaniaan, keperwiraan dan keadilan. Manusia pun memiliki tiga kekuatan, kekuatan akal, kekuatan marah, kekuatan syahwat. Keutamaan itu sendiri terbagi menjadi tiga :
ü  Perseorangan
ü  Masyarakat
ü  Agama

BAB VII – AKHLAK ISLAMI DALAM KAITANNYA DENGAN STATUS PRIBADI
SUMBER DAN CIRI-CIRI AKHLAK ISLAM
Akhlak Islam merupakan sistem akhlak yang berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan, maka tentunya sesuai pula dengan dasar agama Islam. Dengan demikian, dasar/sumber pokok daripada akhlak Islam adalah AL-Quran dan Al-Hadist yang merupakan sumber utama dari agama Islam itu sendiri. Ciri-ciri akhlak Islamiyah yaitu
ü  Kebajikan yang mutlak
ü  Kebaikan yang menyeluruh
ü  Kemantapan
ü  Kewajiban yang ipenuhi
ü  Pengawasan yang menyeluruh
PRIBADI SEBAGAI HAMBA ALLAH
Hubungan manusia dengan Allah adalah hubungan makhluk dengan khaliknya. Secara moral manusiawi, manusia mempunyai kewajiban kepada Allah sebagai khaliknya yang telah member kenikmatan yang tidak terhitung jumlahnya. Dalam ayat 177 Al-Baqarah, iman dan amal shaleh, yang disebut takwa dengan perincian : pertama, iman kepada Allah dan kedua, kepada hari akhir
PRIBADI SEBAGAI ANAK
Mendidik akhlak anak tidak boleh keliru, yaitu salah satunya dengan memberikan dorongsn dan semangat yang memacu agar giat si anak.
AKHLAK PADA AYAH DAN IBU
Betapa berat tanggungan ibu, betapa rasa tanggung jawab ibu, itu adalah anugerah dari paa Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. “Hidayah” . hidayah itu disebut insting atau naluri, dalam ilmu agama isebut “Hidayah-ghariziyyah”
ü  Kewajiban kepada ibu
ü  Berbuat baik kepada ibu dan ayah, walaupun keduanya Lalim
ü  Berkata Halus dan mulia kepada Ibu dan Ayah
ü  Berkata lemah dan lembut
ü  Mana yang harus diahulukan antara ayah dan ibu
ü  Berbuat baik kepada ibu dan ayah yang sudah meninggal
AKHLAK KEPADA ANGGOTA MASYARAKAT/JAMA’AH
Tolong menolong untuk kebaikan dan takwa kepada Allah adalah perintah Allah. Kewajiban tolong menolong bukan hanya dari segi moril melainkan juga dalam segi materi, yang bersifat kebutuhan pokok manusia untuk menjaga kelestarian hidup manusia. Kewajiban muslim terhadap muslim lainnya, juga merupakan pendidikan. Landasan pokok pergaulan jamaah di masyarakat dalam surah An-Nisa ayat 36.
AKHLAK DA’I / MUBALIGH
Para da’I memiliki ilham yang mana martabat yang tinggi dalam dirinya yang selalu menghubungkan dengan Allah. Jiwa para Da’I terlingkupi karomah, jadi sikap dan kepribadian dai/mubaligh harus betul menjiwai Islam. Internalisasi ruh islam menjadi proses keseharian seorang da’i.
AKHLAK PEMIMPIN
Akhlak pemimpin baik, sebab sifat, perilaku dan sikapnya dapat membahagiakan orang lain dan menampakkan krismatik nya pada yang dipimpin. Pemimpin berakhlak baik apabila memiliki kepribadian yang sesuai dengan tata aturan (ketentuan) agama, masyarakat, keluarga dan Negara/bangsa.
AKHLAK MAHMUDAH DAN MAZMUMAH
Akhlak mahmudah adalah segala macam sikap dan tingkah laku yang baik(yang terpuji) sebaliknya segala macam sikap dan tingkah laku yang tercela disebut akhlak mazmumah.
Akhlak atau sifat-sifat mahmudah antara lain seperti Al-amanah, AL-Shidqu, Al-Adl. Sedangakan akhlak mazmumah seperti Al-Bagyu, Ananiah, Al-Jubn, dan lain-lain.

BAGIAN II-TASAWUF
BAB I –TASAWUF
ASAL USUL TASAWUF
Beberapa definisi yang dikemukakan ahli tentang tasawuf:
·         Asy-syekh Muhammad Amin Al-Khurdy “Tasawuf adalah suatu ilmu yang dengannya dapat diketahui hal ihwal kebaikan dan keburukan jiwa, cara membersihkannya dari sifat-sifat yang buruk dan mengisinya dengan sifat-sifat yang terpuji, cara melakukan suluk, melangkah menuju kepada perintah-Nya.
·         Imam Al-Ghazali “Tasawuf adalah budi pekerti…”
·         As-Suhrawardy mengemukakan pendapat Ma’ruf Al-Karakhy mengatakan “Tasawuf adalah mencari hakikat dan meninggalkan sesuatu yang ada dditangan makhluk.”
Penulis mengemukakan definisi lain bahwa tasawuf adalah melakukan ibadah kepada Allah dengan cara yang telah dirintis oleh Ulama Sufi.
ESENSI TASAWUF
Tasawuf bertujuan memperoleh suatu hubungan khusus langsung dari Tuhan. Tujuan tasawuf dapat berhubungan langsung dengan Tuhan. Dengan maksu ada perasaan benar-benar berada di hadirat Tuhan. Para sufi beranggapan bahwa ibadah yang diselenggrakan dengan cara formal belum ianggap memuaskan. Untuk merasa dekat dengan Allah sufi sepakat, hanya dengan kesucian jiwa. Dan untuk itu perlu pendidikan dan latihan mental yang panjang dan bertingkat.
BERBAGAI PENDAPAT TENTANG MUNCUL DAN BERKEMBANGNYA TASAWUF
a.       Pada Abad Pertama dan kedua Hijriyah
1) perkembangan tasawuf pada masa sahabat.
Beberapa sahabat yang tergolong sufi di abad pertama dan berfungsi sebagai maha guru bagi pendatang dari luar kota Madinah yang tertarik kepada kehidupan sufi. Sahabat yang dimaksud antara lain:
ü  Abu Bakar As-Siddiq
ü  Umar bin Khatab
ü  Usman bin Affan
ü  Ali bin Abi Thalib
ü  Salman Al-Farisy
ü  Abu Zar Al-Ghifary
ü  Ammar bin Yasir
ü  Huzaidah binAl-Yaman
ü  Niqdad bib Aswad
2) Perkembangan tasawuf pada masa tabiin
Ulama sufi dari kalangan tabiin adalah murid dari ulama-ulama sufi dari kalangan sahabat, seperti Al-Hasan Al-Bashry, Rabiah Al-Adawiyah, dan lainnya.
b.      Pada Abad Ketiga dan Keempat Hijriyah
Pada abad ketiga hijriyah, Berkembang pesat, dan mereka menyelidiki inti ajaran tasawuf dan membagi menjadi tiga macam:
ü  Tasawuf yang berintikan ilmu jiwa
ü  Tasawuf yang berintikan ilmu akhlak
ü  Tasawuf yang berintikan Metafisika
Sedangkan tokoh-tokoh sufi pada abad ini seperti Abu Sulaiman Ad-Darany, Ahmad bin Al-Hawary Ad-Damasqiy, dan lainnya.
            Pada abad keempat Hijriyah, lebih pesat, para ulama pun memilki usaha yang maksimal, sehingga kota Baghdad satu-satunya kota yang terkenal pusat kegiatan tasawuf pada masa itu.
c.       Pada abad keenam, ketujuh, dan kedelapan hijriyah
Pada abad keenam, kemelut antara Ulama syariat dengan Ulama Tasawuf kembali memburuk, karena dikehidupannya lagi-lagi pemikiran Al-Hulul, Wihdatul Wujud dan Wihdatul Adyan oleh kebanyakan Ulama Tasawuf, sehingga timbul protes dari ulama syariat yang mengajukan keberatannya.Abad ketujuh, terdapat ajaran tasawuf yang menyimpang dan ulama syariat menentangnya. Abad kedelapan, ajaran tasawuf yang dominan yaitu Wihdatul Wujud.
d.      Pada abad kesembilan, kesepuluh, dan sesudahnya
Walaupun nasib ajaran tasawuf menyeddihkan dalam empat abad tersebut, tetapi tidak berarti ajaran tasawuf hilang. Terlihata masih ada ahli tasawuf yang mengarang buku tasawuf.
BAB II – MAHABBAH
PENGERTIAN
Mahabbah artinya cinta. Dapt didefinisikan memeluk dan mematuhi perintah Tuhan, berserah iri kepada Tuhan, atau mengosongkan perasaan hati di atas segala-galanya. Dalam ajaran Tasawuf, mahabbbah dikaitkan dengan ajaran yang disampaikan sufi wanita yang bernama Rabiah Al-Adawi’ah. Mahabbah adalah paham tasawuf yang menekankan perasaan cinta kepada Tuhan.
TOKOH SUFI DAN AJARANNYA
mahabbbah dipelopori dan dikembangkan ajarannya oleh sufi wanita yang bernama Rabiah Al-Adawi’ah.

BAB III – MA’RIFAH
PENGERTIAN
Istilah Ma’rifah berasal dari kata “Al-Ma’rifah” yang berarti mengetahui atau mengenal sesuatu. Dan apabila dihubungkan dengan pengalaman tasawuf, maka istilah disini berarti mengenal Allah ketika sufi mencapai suatu maqam dalam Tasawuf.
FAHAM MA’RIFAH
ü  Kalau mata yang ada didalam hati sanubari manusia terbuka, maka mata kepalanya tertutup, waktu inilah yang dilihat hanya Allah
ü  Ma’rifah adalah cermin
ü  Orang arif baik di waktu tidur dan bangun yang diliat hanyalah Allah
ü  Seandainya Ma’rifah itu materi, maka semua orang yang melihat akan mati karena tidak tahan melihat kecantikan serta keindahannya.
JALAN MA’RIFAH
Menurut Al-Qusyairi ada tiga yaitu:
ü  Qalb fungsinya untuk dapat mengetahui sifat Tuhan,
ü  Ruh fungsinya untuk dapat mencintai Tuhan.
ü  Sir untuk dapat melihat Tuhan.
TOKOH MA’RIFAH
Al-Ghazali tokoh yang mengakhiri masa petualangannya, karena telah mendapat “pegangan” yang sekuat-kuatnya untuk kembali berjuang dan bekerja ditengah masyarakat. Pegangan itu ialah “paham sufi” yang diperolehnya berkat ilham Tuhan ditanah suci Mekkah dan Madinah. Menurut Al-Ghazali, ma’rifah ialah mengetahui rahasia Allah dan mengetahui peraturan-peraturan Tuhan tentang segala yang ada. Ma’rifah dan mahabbah menurut Al-Ghazali tingkatan tinggi bagi seorang sufi.
BAB IV – FANA DAN BAQA
PENGERTIAN
Fana artinya hilang, hancur. Baqa artinya tetap, terus hidup. Untuk mencapai ma’rifah seorang sufi harus bisa menghancurkan diri terlebih dulu. Proses penghancuran diri inilah dalam tasawuf disebut Fana yang diiringi Baqa.
FAHAM ANTARA FANA SEIRING BAQA
Proses penghancuran diri (fana) rupanya tidak dapat dipisahkan dari Baqa (tetap, terus hidup). Kebanyakan orang sufi dalam penghancuran diri lewat fana yang dicari adalah al dana’an al-nafs.
TOKOH SUFI
Dalam perlambangan tasawuf, yang dipandang sebagai tokoh sufi pertama memunculkan persoalan fana dan baqa adalah Abu Yazid Al-Bustamih.
BAB V- ITTIHAD DAN HULUL
PENGERTIAN
Ittihad artinya bahwa tingkatan tasawuf seorang sufi telah merasa dirinya bersatu dengan Tuhan. Ittihad merupakan suatu tingkatan dimana yang mencintai dan yang dicintai telah menjadi satu. Masalah ittiha, Hulul dan Tauhid dikalangan sufi tidak banyak dibicarakan, disebabkan dari pembunuhan tokoh sufi yaitu al-hajjaj karena dituduh mempunyai paham “Hulul” sehingga banyak tokoh sufi takut mempersoalkan tersebut, agar tidak mempunyai nasib yang sama.
TOKOH SUFI ITTIHAD-HULUL DAN AJARANNYA
Sebagai penyebar an pembawa ajaran ittihad dalam tasawuf adalah Abu Yazid Al-Bustami. Abu yazid setelah mengetahui proses pendekatan diri kepada Allah, melalui fana ia meninggalkan dirinya ke hadirat Tuhan. Keberadaan ia dapat dilihat apa berada dekat atau belum pada Tuhan melalui “SYATAHAT” yang diucapkan. Syatahat adalah ucapan-ucapan yang dikeluarkan oleh seorang sufi pada permukaan ia berada di pintu gerbang ittihad.

BAB VI – WAHDAD AL-WUJUD AN INSAN KAMIL
PENGERTIAN
Kata “Wahdad Al-Wujud” berarti kesatuan wujud. Paham ini merubah sifat nasuf yang ada dalam Hulul menjadi Khalaq dan sifat Lahut menjadi Haq. Keduanya (Khalaq dan haq) menjadi suatu aspek khalaq sebgai aspek sebelum dalam. Pokok permasalahan “Wahdad Al-Wujud” adalah yang sebenarnya berhak mempunyai wujud hanyalah satu, yaitu Tuhan. Dan wujud selain Tuhan adalah wujud bayangan. Insan kamil artinya manusia yang sempurna. Yang dimaksud sempurna dalam hidupnya.
TOKOH SUFI WAHDAD AL-WUJUD – INSAN KAMIL DAN AJARANNYA
Faham “Wahdad Al-Wujud” diajarkan oleh Muhy Al-Qin Ibnu Arabi. Menurut pemikiran tasawufnya, bahwa Tuhan ingin melihat diriNya dan luar diriNya maka dijadikan –Nya alam. Dalam tasawuf Ibnu Al-Arabi, yang bersatu dengan Tuhan bukan hanya manusia tetapi semua makhluk. Semuanya wujud satu dengan Tuhan. Oleh sebab itu, ada orang yang menyebut filsafat Ibnu AL-Arabi ini panteisme.



BAB VIII – TARIKAT
Istilah Tariqat berasal dari kata At-Tariq (jalan) menuju kepada hakikat atau dengan kata lain pengalaman syariat. Tariqat adalah pengalaman syariat, melaksanakan beban ibadah dengan tekun dan menjauhkan diri dari sikap mempermudah ibadah yang sebenarnya memang tidak boleh ddipermudah. Tarikat itu dapat dilihat dari dua sisi yaitu amaliyah dan perkumpulan (organisasi).
ISTILAH TARIQAT
A.    Syariat
Kata syariat berarti perjalanan atau peraturan, maksudnya amalan lahir, missal sholat, puasa.
B.     Hakikat
Berarti puncak atau kesudahan sesuatu. Kebalikan syariat yang menyangkut batin.
C.     Ma’rifat
Berarti pengetahuan atau pengalaman. Ialah pengetahuan dalam mengerjakan syariat dan hakikat.
D.    Tarikat
Berarti jalan. Jalan atau cara yang ditempuh menuju keridhoan Allah.
E.     Suluk
Menempuh perjalanan. Ikhtisar (usaha) dalam menempuh jalan untuk mencapai tujuan tarikat.
F.      Manazil
G.    Zawiyah
H.    Illa zikr nafi isbat
I.       As-sukr dan Al-Fana
J.       Uslah dan khalwat
K.    Kasyaf
L.     Silsilah dan Khirqah
M.   Wali, keramat,
TOKOH-TOKOH TARIKAT DI DUNIA ISLAM MAUPUN INDONESIA
Peristilahan yang sering dijumpai dalam Tarikat yaitu Istilah Syekh an Mursyid, guru tarikat.Khalifah, wakil syekh. Murid itu pengikut ajaran suatu tarikat, Baiat, Suluk, dan  lainnya. Macam-acam tariqat beserta pendirinya Tarikat Qadariyah yang dinisbatkan kepada Asy-Syekh Abdul Qadir Jailani.Tarikat Rifaiyah yang dinisbatkan kepada Asy-Syekh Ahmad Rifa’i. Tarikat Maulawiyah yang dinisbatkan kepada Asy-syekh Maulana Jalaludin Ar-Rumi. Dan masih banyak lainnya.