DAKWAH RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN
Dakwah ke jalan Allah SWT merupakan risalah para Nabi dan Rasul, jalan para penunjuk dan para pelapor perbaikan, Allah telah memilih para Du'ah dan penunjuk untuk menyampaikan risalah-Nya serta menjelaskan Dakwahnya. Dan Rasulullah SAW merupakan teladan utama bagi pendakwah dan juru penerangan. Salah satu hadis Nabi Muhamad SAW, mengungkapkan bahwa ketika sebagian sahabat memohon kepada beliau, agar mendoakan keburukan dan mengutuk orang-orang musyrik dan kafir, Nabi SAW menjawab: “Aku diutus bukanlah sebagai pembawa kutukan, tetapi aku diutus sebagai pembawa rahmat (bagi semua manusia”. (HR. Muslim). Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin. Umat Islam tentu meyakini misi rahmatan lil ‘alamin, sebab Term rahmatan lil-’alamin telah diungkapkan dalam Al Qur’an. diantaranya dalam surat al-Anbiya ayat 7:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam).” (QS. Al Anbiya’ : 107).
Dalam ayat itu “Rahmatan lil- ‘alamin” secara tegas dikaitkan dengan kerasulan Nabi Muhammad SAW. Rahmat yang diberikan Allah kepada semesta alam ini dikaitkan dengan kerasulan Nabi Muhammad SAW. Maka umat manusia dalam menerima bagian dari rahmat tersebut berbeda-beda.
Dengan metode dan sikap yang arif, bijak sesuai rahmatan tersebut pun dirumuskan oleh para juru dakwah, yang berdasarkan Al-Qur’an dan hadis Nabi Saw, kemudian diformulasikan menjadi sebuah ajaran Islam.
Konsep rahmatan lil’alamin dalam dakwah sendiri, tidak terpisah dari dogmatika penciptaan manusia yang bersuku, berbangsa dan berlainan bahasa agar saling taaruf. Sumbu dari konsep ini tidak lain adalah penjagaan tauhid. Justru karena visi rahmatan lil ‘alamin inilah, maka dakwah menjadi suatu alat penting bagi islam, untuk menyatakan dirinya kepada manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar